Di atas sajadah dan berpalut mukena
“dia” mengadu pada mu rabbi
Untuk kecian kalinya “dia”
Melakoni sinema kekecawaan seperti sebelumnya yang pernah dialami
Di atas sajadah “dia” berpikir
Untuk menghilangkan variabel-variabel dan indicator
Selama ini diyakinkan dan diagungkan
Mampukah untuk mempudar serta melenyapkan Serbuk perasaan yang telah berbenih
Di atas sajadah “dia” berbaring
Untuk melelapkan mata dan melepaskan pegal kecewaan
Mampukah balsem kesabaran dan kapsul do’a
Untuk meredakan dan mengikikis kepanatan, mengalus butir-butir kesedihan
Di atas sajadah ”dia” duduk sambil bersimbuh
Seperti para peminta memohon dan mengharap serta melontar
Helain napas dengan tenggorakan serak
Sambil bersimbuh “dia” mendengungkan tajwid-tajwid keresahan
Yang telah bertali-temali disetiap kerudung romantisan cinta.
Di atas sajadah ”dia”yakinkan bahwa yang terjadi
Ibarat anggur kehidupan jika dicicipi hanya dua atau lebih
Akan membawa kemanisan, namun dimakan setangai membawa kamabukkan
Seperti itulah skenario piccisan...
Di atas sajadah ”dia” menyejukkan
Hati dengan sebuah senyum bahwa ”dia” mampu bangkit seperti baling-baling kipas
Walaupun tak sanggup berputar namun tetap memberi angin dan kesejukkan
Pada setiap yang merasakan...










0 komentar:
Posting Komentar